Eksposisi Mawar

Mei 28, 2008

Menerka kapan ada tangan mungil yang memelukku riang, mendekap dan menyelimuti dengan kasih kehidupannya.

Sebelum dimasukkan dalam vas nan cantik di kamar mungilnya, kubayangkan tangan itu menimangku penuh sayang, memberikan belaian syahdu.

Tangan itu telah membohongi dirinya sendiri. Karena dia tahu, duri itu juga ikut terdekap..

Di Ketinggian

Mei 18, 2008

aliran hawa dingin memeluk tubuh

menatap dan merasa..

dirimu yang begitu lepas
dirimu yang begitu tinggi
angkuh menjulang menantang cakrawala

lihatlah awan-awan itu..
berarak di bawah kaki kita,
mendendangkan lagu kasmaran,
mendeklamasikan syair kekaguman,

manisku,
jika kau tahu,
jika kau merasa,
tertawalah..
karena kau memang begitu berharga.





Bandung 180508

Satu

Mei 12, 2008

kemayu bangsa ini tak berdaya
diinjak harga diri biasa sajalah
kiranya tak perlu membela
itulah dalam pikirannya

roda-roda industri berjalan hari ini
bukan lagi roda itu bertenaga mesin
juga bukan tenaga atom yang membuat gerah
hanyalah kuli pribumi berjumlah ratusan juta

dan si roda itu?
siapakah yang punya?
yakin saya itu bukan oran-orang itu yang punya
buat apa lagi jadi kuli toh?

tahukah saudara tentang surga minyak di cepu?
juga tanah emas di papua?
atau timah mutu jempol 4 jari di bangka?
di sanalah sebagian roda itu berjalan

seseorang pernah berkeluh tentang ini
“itu di cepu, kita yang eksplorasi, ita juga yang dieksploitasi, hasilnya malah bukan kita yang dapati, penuhlah pemerintah kita berhamba di kaki si adidaya”
sebenarnya diri pribadi hamba tak mengerti istilah dia saudara,
tapi sepertinya memang miris sekali ya saudara?

“berikan kita limbah-limbah beracun, berikan kita kerusakan tanah negeri, mereka ambil pula kita punya emas”
katanya burung yang bergosip,
ada juga gedung berpagar tinggi dalam kemeriahan istana para raja,
di sebelahnya pribumi telanjang masih makan orang

geruduk tiap malam pun berbunyi berisik di bangka sana
mengeruk timah dalam loyang-loyang reksasi
kabarnya kini sudah hampir habislah kristal-kristal pembuat pelastik itu tanpa dapati kita hasilnya yang kelihatan
sementara orang-orang melayu di sana masih juga tidak keluar dari predikat kuli di kasta hidup makan sekali dua di tiap jenak hari

ada lagi dongeng tentang gadis perawan kita di negeri tetangga
mengais kepingan dollar di sana katanya
gadis perawan kita memang kuat bukan saudara?
srikandi kalau kata bapak dalang

mafhumlah engkau saudara
srikandi-srikandi kita itu bersimbah keringat, lendir, bahkan darah di sana
ya sebenar-benarnya
keringat, lendir, dan darah saudaraku..

ada yang diperkosa
dipukuli dan dianiaya
tak dibayar pula gajinya
hanya dicolek hitungannya mungkin adalah sudah untung

meronta tak guna
menangis tak faedah
menuntut tak manfaat
menghiba sia-sia

kenapakah saudara? ini pastilah ada yang salah saudara..
rupa-rupanya tak ada yang menggubris mereka itu saudara
mati kutu pemerintah kita dalam takut saudara
terkencing-kencing dalam celana pemerintah kita itu saudara

tak adalah harga diri
apatah lagi kehormatan
yang tersandang dalam peci-peci mereka hanya kemaruk saja
tergopoh mereka dalam sarung-sarung yang gemerincing rupiah hasil sogokan para tetangga

kemarin dulu ada katanya wakil rakyat digelandang masuk bui
katanya mencopet uang orang dia itu
luar biasa memang para pewakil kita,
muka bersih berseri tersenyum-senyum, tangan di dalam celana meliuk cari objekan

pernah dengar hasil ekspor negeri kita yang terhebat dan paling fenomenal?
asap
ya, asap
diproduksi di borneo sana

produk asap ini dihasilkan dari pabrik-pabrik hutan jutaan hektare yang menghijau royo-royo
proses pembuatannya gampang sekali
ada sedikit pemantik api, ada sedikit gesek-gesekan, ada sedikit motif huma
jadilah produk berkualitas tinggi kita ini

saudara, orang banyak bilang budaya bangsa ini adalah ramah, kasih, rajin, suka menolong, murah senyum, bergotong royong.
tapi diri pribadi hamba heran, kok ya kemarin dulu ambon manise kebakaran
orang papua menenteng panah
dayak madura tusuk-tusukan

kok ya aneh begitu..
miskin kan katanya orang melayu ini sekarang saudara?
motor mobil tapinya laris terus
handphone terbaru laiknya kacang goreng habis sekelebat

belum ini kita bicara tontonan saudara
belum pakaian muda-muda
sekolahan juga
masih banyak..

cape,
nanti dilanjutkan lagi
kapan-kapan,
ya saudara?

http://belajarmenulis.wordpress.com/2008/05/04/satu/

Di Perempatan Jalan

April 29, 2008

Di perempatan yang sama seperti bertahun-tahun lalu,
kini riuh gemuruh genjreng gitar dan suara robek anak di sana
kacau oleh kebisingan perut yang makan sekali dua
riuh senyap dalam pandang calo atau koordinator atau bos yang punya kuasa

seperti kubangan..

Isinya semua lapisan masyarakat
yang merestui hubungan terlarang
antara preman dan polisi dan pemakai kendaraan dan pejalan kaki dan penguasa di gedung-gedung hijau pemerintahan

Rupanya pikiran dan perasaan
tidak lagi lurus

terlalu sinting oleh limpahan receh peradaban rupanya
terlalu takut keajegan kuasa terbang dari sisi rupanya
terlalu kecil nasib perempatan jalan dalam sudut pandang rupanya..
tak ada itu perasaan tersentuh
tak ada itu pikiran capai bekerja..

Ampunilah kita..

Kepanjanganku

April 23, 2008

Zahirnya aku memiliki hati berlumur duri
Amarah adalah pembuktinya
Merugi menjadi akhirnya
Zaman hanyalah masalah kapan bagiku
Argumentasi menjadi tidak berarti ketika..
Mati jelang di badanku.

Biar semua memberikan saran-saran culasnya
Aku tetap dalam keadaan bodohku
Dia, atau siapapun tak bisa seenaknya ingin mengatur
Rumah tempat pulang menjadi kata yang asing
Uang setipis kulit takkanlah menjadi soal lagi..

Zaman telah berubah, sekali lagi, BERUBAH
Aku tak mengharap tatapan kasihan
Maupun onggokan sedekah
Ayat keangkuhan telah bersinar terang dari wajah lugu ini
Nirwana telah menggumpal di pelupuk mata..

Menjemputmu

April 23, 2008

Wahai jiwa..
terbanglah engkau ke ufuk timur
menjemput sang mentari yang kini sedang malu-malu bersembunyi

Rayulah sinarnya dengan ketulusan
Imbuh dengan kicauan kekasih yang kasmaran..

Tariklah dia punya tangan..
Beranikan untuk menerjang semua gerombol awan

Niscaya tangisan bumi akan menguap oleh hangat semburatnya
dan pasti kau pun akan tersenyum gembira,
wahai jiwa..

Badut

April 21, 2008

Sekali badut tetap akan menjadi badut
mendagel seenaknya
di
jiwa
akal
hati
perasaan
para pemirsa yang berduyun-duyun ingin memahatkan memori kecut hasil siksaan sepanjang matahari

Badut hanya bisa melakukan manuver kacangan,
diperuntukkan untuk orang-orang kampungan
yang mengais sejumput kebahagiaan

mengejarmu..
tak peduli engkau berada di atas awan atau di tengah samodera

Tak sadarkah kau sedang ditertawakan?

Kepantasan Buat Saudara

April 8, 2008

saudara..

saat melihat borok-borok itu bermunculan dengan segenap variasinya
manusia-manusia berkepala kera ini hanya bisa mengasihani diri sendiri dengan riang
membiarkan semuanya terjadi dengan gempita dan larut dalam ekstase kebodohan yang tak ada peduli

saudara tak tahu sadar menggenapi dengan sempurna..

dalam satu helaan pikiran mengangkasa
pantaskah saudara menghina tanah pijak saudara?
pantaskah saudara menghembuskan kabut yang semakin memupus api yang sudah kecil menyala?

pikirkanlah..
saat yang saudara injak bukan lagi tanah..
mimpikanlah..
saat injakan itu hanyalah lumpur bercampur segala kotoran..
hingga tak ada lagi hidup selain dipenuhi nista..

kepala penuh prasangka,
menghunjamlah ke balik dada,
dalam sekalian..


Bandung, 080408

Seperti hujan malam ini..

Kulit Kacang

April 7, 2008

memakan nasi sepiring
dulu
seperiuk
kini

menghamba tarikan urat kaki
dulu
kaki berlingkar
kini

Silau sekali kulihat dirimu
kini

Bandung 070408

Di Perbatasan

April 6, 2008

Di antara lelah

Dimana merayap melalui sela-sela lengan baju

Di kesibukan para penjilat

Ditembaki oleh penyesalan yang meraja

Di keriuhan yang menggigit nadi

Disandingkan dengan kekejian pandang mata

Di tempat yang kini selapis neraka

Dian itu takkan pernah padam..

~Bandung, 060408

28

April 5, 2008

Berhenti di titik ini berarti dihancurkan!

Ingkar

Maret 29, 2008

Wahai paduka tuan..

Benarkah paduka tidak mengerti?
Tidakkah paduka sedang tidak mau mengerti?
Atau paduka sedang berpura-pura tidak mengerti?!

Apakah kejelasan frasa saudari ini tidak paduka pahami?
Akankah niat baik itu paduka makzulkan?

Wahai paduka tuan..
Pikirkanlah kembali..
Resapilah lagi..

Jika saja paduka mau membuka diri
Jika saja paduka sedikit berani
Insya Allah gunung dan samudera pun ‘kan merasa iri..

Netra

Januari 24, 2008

Kita tak berani lagi untuk jujur pada kepala sendiri
Aroma udara telah pengap oleh kemunafikan
Jalan-jalan telah penuh dengan kompromi persekongkolan

Di saat para penguasa menarikan salsanya yang culas
dosen, rektor, guru besar dengan senang hati mengepel cairan keringat mereka yang jatuh ke lantai
mengepel supaya tidak ada slip
kemudian berbangga dengan kain pel yang kini telah jadi hitam
sama hitamnya dengan seringai dan kedipan seekor tikus kecebur got

Para pelajar dan mahasiswa hanya memberikan sorakan dan tepukannya
saat kaki-kaki mereka berjingkat dalam lampu kelap-kelip dan suasana hot
dengan sepoci tequilla seharga uang spp mereka berujar..
“Amboiiii, mari nikmati masa muda!”

seorang lusuh kerempeng berteriak-teriak
menuntut pembagian..
serentak terdengar riuh bisikan
“oh.. dia orang tak waras”,
“oh.. tak tahu malu”,
“…”

Dewasa ini masyarakat secara kolektif memberikan restunya
putra pada sang ayah
siswa untuk gurunya
mahasiswa bersama dosennya
pasien-pasien untuk dokter
penumpang bagi pak sopir
pembantu ke majikan
hingga om pelanggan untuk lonte favoritnya

Lihatlah..
udara makin pekat
menghitam..
kita telah menjadi buta

Bandung, 240108

Barat Sialan

Nopember 20, 2007

dibalik jendela tunggangan buatan eropa
menyaksikan perempatan jalan yg penuh ibu-ibu penggendong anak
jejeran pengamen rombeng
anak kecil kumal bau penengadah tangan

lampu merah kuning hijau
berkelap-kelip di kepala

sarapan di mcdonalds
asupan sampah yang diagungkan inlander-inlander bodoh

lunch bersama ki-ev-si
si ayam busuk imperialisme-kapitalistik

malamnya pergi ke starbucks
menghirup secangkir kopi hitam seharga sepuluh kepala

di balik jendela,
ibu-ibu bau kecut..
pengamen-pengamen murahan..
anak-anak kerempeng..
masih menari-nari bersama nasibnya

dan aku tertawa saja

Bajakan..

Nopember 19, 2007

bahkan anjing pun harus menggonggong untuk membuktikan dia ada

tinja harus berwarna kuning kecoklatan agar dia benar-benar seperti tinja

mahasiswa wajib terlihat intelek supaya dia disebut mahasiswa..

Mati Sajalah!!!

Nopember 18, 2007

busuk!!!

tak nyana
hati ini begitu rusak
tapi di kata
tapi di amal
wangi-wangi bunga kamboja bertebaran

tertekanlah..

Akukah si Pungguk

Nopember 8, 2007

Hanya Tuhan dan microsoft word saja yang tahu perasaanku padanya
Gejolak tersegel dalam perut
Hanya bulir-bulir harapan muluk sering mampir dalam mimpi kosong di malam yang dingin menusuk

Kita masih terikat dalam satu celah waktu
Masih sama menginjak bumi yang bau amis darah ini
Tapi tangan kurus tak mungkin menyangga tubuh gemuk penuh lemak-lemak feodalisme
dan mata rabun tak akan mampu menyaingi sinar yang terlalu silau

Aku hanya bisa terbuai dalam khayal
Terbius dalam ekstase yang tanpa saluran
Tergagap
dan..
Bisu

Dia..
Telah menganakpinak dalam kerasnya padas berbingkai jelaga
Dalam kandang-kandang kambing yang tak pernah bisa terlalu luas menyimpan gundah
Di tengah lautan sahara yang miskin kesejukan realitas

Saat proletar mengharap,
Dia hanya bisa mengharap..

Untuk Adindaku..

Mei 2, 2007

Bismillahirrahmanirrahim

Teruntuk adinda yang selalu berada di hati dan pikiranku
Buat adinda yang mungkin kini sedang menunggu-nunggu
Kepada adinda yang belum ku tahu siapa dan seperti apa raut dirimu

Taqdir Allah akan selalu menyertai kebersamaan setiap insan
Termasuk kita saat ini
Waktu takkan pernah bisa mengikis ikatan kita
Sebaliknya, waktulah yang akan memperkokoh ikatan kita
Karena adindaku…
Suratan ini telah diteguhkan di lauhul mahfudz

Adindaku tercinta
Sungguh rindu hati ini bertemu denganmu
Sungguh rindu hati ini berdzikir bersamamu

Adindaku…
Mungkin selalu dan selalu terpikir olehmu betapa pengecutnya diriku
Mungkin selalu dan selalu terlintas kekesalan-kekesalan dalam benakmu tentangku
Mungkin selalu dan selalu hatimu tak rela dalam penantian-penantian panjangmu
Mungkin selalu dan selalu kau ingin berkata: “Kemanakah dikau pelipur lara? Penuntunku di dunia dan akhirat? Apakah kau masih malu untuk menampakkan dirimu dihadapanku? Aku telah siap untuk kau jemput, aku telah siap untuk kau jumpa, aku telah siap… tapi apakah kau masih malu?”

O Adindaku…
Terasa bergetar hati ini
Terasa ditarik-tarik jantung ini

Kuatkanlah diriku ya Allah…
Aku tidak ingin sepengecut ini………………………….

 

—-
Bandung
di syahdunya separuh malam

Manisan

April 30, 2007

hidup itu manis..

semanis mangga mengkal
manisnya serang tenggorokan

semanis mangga matang
manisnya sampai ke tulang

semanis mangga busuk
manisnya meracun di kerongkongan

tinggal pilih..

 

—-
Bandung
13 Mar 2007, 07:29 AM